Diposkan pada Puisiy

Kepada Diriku

Untuk setiap kekecewaan yang hadir karena adanya harap
Maaf, maafkan diriku yang sudah melukai diriku sendiri

Untuk setiap rasa mengalah dan sebuah pengertian yang selalu dipaksakan
Maaf, maafkan diriku yang sudah memaksa tegar diriku sendiri

Untuk setiap tangis yang hadir,
Maaf
Maafkan aku yang bahkan tidak mampu menjaga perasaan diriku sendiri

Maaf.

Iklan
Diposkan pada Cerpen

April

“Emang kamu nggak takut Sar?” Dinda bertanya dengan wajah ibanya setelah aku bercerita panjang lebar

“Emang gitu Din, namanya juga hidup” Aku membalas seadanya, membuang wajah dari raut khawatir Dinda pada jendela. Diluar hujan, tidak ada matahari yang bersinar meski jarum jam menunjuk angka 1. Memang sudah akhir-akhir ini kotaku di guyur hujan deras tiap siangnya, kata Dendy lebih baik di rumah. Beristirahat dibalik hangatnya sellimut.

“Terus, sekarang kamu mau gimana?” Dinda kembali bertanya. Pertanyaan yang aku pun entah harus menjawab apa.

Aku menggeleng pelan, “Nggak tahun Din” Jawabku tanpa menatap matanya.

Kami terdiam cukup lama. Tanpa balas pandang dan ucap. Lamunan kami berimajinasi masing-masing. Tetapi lamunanku lebih pada angan kosong tanpa arah. Hujan siang ini seperti membekukan waktu yang seakan tidak berganti.

“Apa iya Din, orang-orang tanpa mimpi sepertiku ini akan mati?” Aku tidak sanggup. Akhirnya ku keluarkan pertanyaan yang menyesakkan dada, yang menjadi alasan mengapa aku harus menemui Dinda siang ini. Aku menggenggam tangannya. Dinda balik memelukku erat. Membisikkan kata semangat dibalik air mataku yang sudah terlanjur tumpah.

April, sudah memasuki bulan ke 4 pada tahun ini. Dan aku masih saja begini. Pada waktu yang seolah berganti tanpa arti.

Diposkan pada Opiney

PRINSIP #PembelajaranMenujuDewasa

Saya percaya bahwasannya setiap orang memiliki prinsip yang berbeda-beda. Dan sepantasnyalah kita sebagai manusia yang sering mengaku menjunjung tinggi toleransi dan menghargai perbedaan harus belajar untuk menerima kenyataan ini. Kita tidak bisa memaksa orang lain mengikuti prinsip kita sekalipun apa yang kita pegang adalah hal yang menurut kita benar. Karena sejatinya kebenaran adalah yang abu-abu pada dunia yang semakin kompleks.

Memang tidak mudah. Dan inilah bagian dari pendewasaan diri. Menerima prinsip orang lain, yang bahkan sangat bertentangan dengan kita, tanpa harus menjudge atau pun memperlakukan hal yang berbeda.

Karena pada dasarnya tiap orang memiliki latar belakang yang berbeda, pengalaman dan pelajaran hidup yang pun tak sama dengan kita. Dan hal-hal inilah yang terkadang membuat sebuah prinsip berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Sampai sekarang pun saya juga masih mencari dan menguatkan prinsip hidup saya seiring orang yang hadir dan pergi serta pengalaman manis pahitnya hidup yang silih berganti.

Semakin besar, semakin jauh kita melangkah. Kita akan semakin mengerti akan warna warni dunia. Menemukan yang memiliki prinsip sama memang menyenangkan, saling menguatkan untuk tetap berjalan pada standar yang telah kita tentukan. Tetapi memiliki yang prinsip yang berbeda, mengajarkan bahwa dunia memang tidak hanya sesempit Kalibanteng.

hehehe. maap endingnya ganyambung

Diposkan pada MoodSwing

20

Memasuki fase usia berkepala dua. Ada rasa takut yang mulai hadir. Iming-iming masalah yang lebih runyam, Juga life quarter crisis yang seakan melambai-lambai mengucapkan selamat datang.

Biasa aja yo Zah umur 20 tuh” Tetapi faktanya orang-orang terdekat berkata seperti itu. Memang dasar ya media, niatnya memperingatkan tetapi kok juga kesannya menakut-nakuti.

20 tahun, kata motivator dan orang-orang yang bersemangat tinggi, “Sudah menghasilkan karya apa saja selama 20 tahun hidup? Sudah berbuat apa saja?” Hakikat kehidupan untuk selalu menebar kebermanfaatan bagi sesama.

Saya tidak tau akan bagaimana memaknai usia 20 tahun yang baru terlewat beberapa jam. Bagaimana kedepannya, semoga selalu di kuatkan dan dimudahkan. Ada dua hal yang sangat saya ingin sampaikan hari ini, mohon di koreksi apabila pemaknaan dan pemahaman saya masih keliru

  1. Perihal Kedewasaan

Banyak orang berkata, hidup adalah tuntutan untuk menjadi dewasa, tetapi saya membenci menjadi dewasa (dan terkadang orang-orang dewasa). Alih-alih mungkin karena saya yang selalu masih kekanak-kanakan. Dewasa itu rumit. Kecil diperbesar, banyak sabar, mengerti, pemaknaan tinggi, dan lain-lain yang saya masih sulit untuk melakukannya. Seiring waktu yang berganti, tiap usia bertambah dan orang-orang mendoakan semoga bertambah dewasa. Saya hanya mengamini, semoga saya lebih dulu mencintai sebuah kedewasaan hingga saya mau berubah untuk menjadi dewasa. Karena mau tidak mau, akhirnya saya juga sadar, dewasa adalah salah satu tuntutan kehidupan.

2. Perihal Materil

Semakin bertambah usia juga terkadang saya tersadar. Bahwa hal-hal materil terkadang sudah tidak lagi berarti banyak bagi saya. Saya lebih memilih diberi sesingkat waktu diantara sibuknya kegiatan dari orang-orang yang saya sayangi, daripada diberi barang-barang mewah. Saya lebih senang di beri kabar di sela-sela kesibukan, diberi waktu liburan bersama, bercerita dari hati ke hati atau pun membicarakan hal-hal sederhana bersama. Saya akui, yang saya butuhkan adalah perhatian dan kasih sayang. Biarlah hal-hal materil saya yang perjuangkan dengan keringat saya untuk saat ini, yaa terlepas dari bantuan orangtua juga hahaha.

yasudahlah

semoga kedepannya kita sama-sama dimudahkan dan selalu diberi kekuatan.

love peace and gawl=

Diposkan pada Opiney, Review

Dilan 1991: Tentang Kebahagiaan Semu dan Keikhlasan

Milea: SMA haha-hihi sama pacaran aja, bisa masuk UI akhirnya”

hahaha. Jokes terbaik DILAN 1991

Well, kemarin malam akhirnya saya menonton film DILAN 1991 yang jumlah penontonnya tembus 3.107.000 orang dalam waktu 5 hari. Ealaah, itu orang apa uang 😀 Overall, film DILAN 1991 tidak jauh beda dengan DILAN 1990. Pacaran ala anak SMA, sampai gombal-gombalan cringe. Mungkin di film DILAN 1991 ini lebih memunculkan banyak konflik. Meski pada akhirnya saya lebih sering berkomentar ” Yasalam ini kenapa sepanjang film Milea nangis terus sih isinya ;( ” Selain jalan cerita dan tata bahasa dalam percakapan, yang membuat film ini mempunyai nilai lebih tersendiri adalah pemainnya, Iqbaal Ramadhan dan Vanesha. Yakin, kalau yang main bukan Iqbaal juga saya pasti pikir 2 kali untuk mau menonton di bioskop atau menunggu di indoxxi hehehe

Apa yah, di akhir film saya juga jatuhnya menangis. Saya memang paling cupu masalah perpisahan, apalagi putus. (Nggak dikabarin seharian saja sudah gelisah haha). Karena sudah tau akhir ceritanya, sepanjang film tiap ada adegan romantis saya pasti langsung mbatinAstaga nanti putus.. nanti putus…” ;( Sedih nggak sih? ;(

Orang tua sudah saling kenal, sepanjang hubungan bahagia, bahkan tidak ada orang ketiga, tetap tidak menjamin hubungan akan baik-baik saja. Yang sudah menikah saja terkadang masih banyak yang bisa cerai ya kan? Dibilang spele, juga engga. Mungkin karena tidak bisa saling mengerti yah? Dilan yang tidak mau dikekang, pun Milea yang sangat sayang dengan Dilan sampai bisa dibilang khawatir berlebihan. Kalau ditanya mereka masih saling cinta atau tidak? Tentu masih. Tetapi ya.. ya begitu 😦 Seharusnya Milea lebih percaya dengan Dilan gitu nggak sih? Kalau sekali pun Dilan ikut geng motor, dia pasti masih bisa menjaga dirinya. Tetapi kalau jadi Milea juga pasti khawatir, orang sampai ada yang meninggal. 😦

Yha gimana yha 😦

Dalam hubungan memang kuncinya adalah saling komunikasi dan mengerti. Mengalah dan menerima. Berjuang mempertahankan bukan perihal “aku” yang lebih banyak mengalah. Tetapi “kita” yang saling mempertahankan. Huhuhu. Saya nulis kaya gini juga sebenernya masih belajar kok ;( Karena sangat sangat tidak mudah ;(

Yasudahlah. Intinya film DILAN 1991 adalah film yang sedih. Gombalan-gombalan dan kebahagiaan yang tercipta hanyalah semu dan menjadi hantu di masa yang akan datang. Tetapi saya suka dengan prisip Milea. Mau tidak mau, suka tidak suka, pun bagaimana keadaannya, hidup akan terus berjalan. Memang tidak mudah.

Tetapi percayalah, patah hati seperti Milea akan mengajarkan kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa. Penerimaan yang tentu tidak mudah. Tidak mau jatuh cinta bukan berarti kalian akan terhindar dari patah hati.

huhu.

sekian dan selamat malam jumat.




Diposkan pada Pengalaman

FIRST MEDAL FOR RUN 5K!

Gilz!!

Rasanya terharu ingin menangis bisa menyelesaikan Run5K dan dapet medal. Padahal semua finisher juga dapet hahaha

Sayaaa dan medaliii

Dari kecil memang saya suka lari. Mungkin efek waktu SD SMP ikut pramuka kali ya, lalu semasa SMA rutin tiap minggu ke Banjir Kanal Barat atau Tri Lomba Juang untuk lari. Tapi nggak usah ditanya, cuma kuat 4-5 puteran. Masa masa sekolah, bisa lari 1 kilo aja rasanya sudah seperti mau pingsaann.

Lanjut kuliah saya juga masih suka lari. Tiap ada waktu kosong dan lagi nggak magerr, saya selalu menyempatkan untuk lari di stadion. Seumur-umur saya lari di stadion, belum pernah tembus 5 kilo! Pernah sih waktu itu sekali sama doi, tapi nggak yakin juga itu full saya yang lari. Haha

Daannn, sekitar seminggu yang lalu saya ditawarin ikut event lari yang diadakan Polres sama doi, yang biasanya 10K, sekarang 5K. Run color lagi! Nggak pikir panjang, cus langsung daftar🙋‍♀️🤸‍♀️ Anyway , nggak tau kebetulan atau gimana, doi juga suka banget lari. Ya namanya mapala lah yhaa. 10K sudah sering, 20K juga katanya sudah tembus. Heuu

Ragu sih, yakin bisa 5K? Event lari diadakan hari ini, Minggu. Dan terakhir waktu hari Rabu saya latihan di stadion, 3K saja sudah seperti mau mati 😭😭

Tapi ternyata,

Berkat rasa yakin dan bahagia

Akhirnya saya bisa menyelesaikannn:””)) terharu parahh 😦 Selama lari speednya memang pelan pelan banget. Jaga ritme biar nggak capek di tengah jalan. Pelan pelaaan banget bahkan lebih bisa dibilang joging. Fase paling sulit memang satu kilo diawal. Berat banget buat nyesuain lari dengan speed yang konstan. Baru satu kilo, kerudung sudah basah, keringat dimana mana. Haftt. Bisa bisa! Akhirnya masuk ke kilometer ke dua dan selanjutnya, jadi lebih enjoy dan rilekss. Apalagi ada beberapa spot yang disediakan untuk splash color haha jadi sekalian seneng gituuu.

Serius! Capeknya tuh cuma satu kilo diawal. Setelah ituu asyik bangeet. Dan akhirnya finishh dong:”) Bersyukur banget nggak muntah, pusing, atau yang kaki kram. Sehat alhamdulillah :”)

Dapat medali, air mineral, dan pisang. Tapi rasanya aneh kalau habis lari langsung makan :”)

Setelah finish , saya, doi dan temennya foto foto dulu sebentaar. Lalu ikut seru seruan dengerin DJ yang kenal aja engga tapi yang penting happy loncat loncat haha

Parah sih seneng bangeeet saya hari ini akhirnya bisa dapet first medal😭😭 Rasanya tuh kaya berhasil mengalahkan diri sendirii. Semakin tertantang daan,

Ketagihan *eh.

Diposkan pada Apa Aja Daah, MoodSwing

Me Time versi Zahra

Kalian sering nggak sih kalau semisal lagi pusing, banyak pikiran, sumpek. terus pengen kaya refreshing gitu? Komen ya dibawah me time versi kalian ngapain aja, siapa tau bisa jadi refrensi haha

Hari ini saya benar-benar jengah dengan urusan dunia. Pagi hari mendapat kabar kalau teman SMP saya, Hanum, meninggal dunia. Padahal kami sangat dekat, pernah satu kamar waktu SMP (dulu sekolah saya asrama). Mungkin memang Allah lebih sayang dengan Hanum. Lalu saya harus berangkat lebih awal untuk mengantarkan baju saya yang mau dipinjam teman saya. Sampai kampus, saya lupa membawa berkas yang seharusnya di bawa. Rasanya my brain is full and not working. Saking banyaknya kerjaan yang harus diselesaikan sampai bingung mau mana dulu yang harus dikerjakan.

Niat awal saya : Pulang pelatihan Brevet, makan udon, creambath, dan makan es krim Gelato.

Lalu kemudian sadar kalau dompet sedang tidak bisa diajak kompromi

Akhirnya saya pergi ke salah satu kedai kopi. Buka leptop sambil cari-cari ide. Anyway, salah satu kerjaan saya yang menguras otak adalah membuat Karya Tulis Ilmiah untuk besok senin. IYA WOI SENIN BESOK ;( Bukannya bisa relax, saya malah tambah pusing. Iseng-iseng buka tix.id , eh ada promo ahaha.

Saya memutuskan menonton Antalogi Rasa. Not bad lah untuk me time. Film ala drama-drama sinetron FTV. Kebetulan bioskop juga sepi, hanya sekitar 20 sampai 25 orang. Dan saya yakin 18 diantaranya juga me time (karena duduknya juga sendiri) haha. Seperti traillernya, Antalogi Rasa bercerita tentang persahabatan 2 laki-laki dan 2 perempuan yang akhirnya terjebak dalam cinta segi 3. Entah karena saya sedang pusing, saya menangis meratapi film ini hahaha alay memang saya. Yang saya ingat begini, “Kalau dia bikin kamu ketawa, tandanya kamu suka sama dia. Tapi kalau dia bikin kamu nangis, berati kamu cinta sama dia” hasyaahhh

Film selesai pukul 16.10, belum puas, saya memutuskan menonton The Day Death 2.

Diluar ekspektasi sih. Saya pikir benar-benar mengerikan, tetapi ternyata tidak juga. Bercerita tentang seorang perempuan yang terjebak dalam dimensi waktu. Bisa mati lalu hidup berkali-kali. Nggak usah ditanya, satu bioskop isinya orang pacaran semua. “Hidup memang adalah tentang pilihan-pilihan yang sulit. Ikuti kata hati kamu dan yakinlah” Iya begitu nasihat yang saya tangkap dari film ini. hhahaha

Film selesai sekitar pukul 6 sore. Saya solat dan duduk-duduk sebentar di parkiran lalu pulang ke rumah.

Saya memang suka me time dengan menonton film. Rasanya seperti membuka dunia baru. Refrensi kehidupan dan pemikiran. hahaha. Saya juga suka duduk-duduk di taman. Sekadar lihat orang lewat sambil scroll timeline sosial media. Saya juga suka menghabiskan me time dengan berenang, bersepeda, pergi ke pasar, atau yang paling sering saya lakukan adalah dengan tidur. Rasanya kalau tidur itu semua masalah hilang, ya walaupun cuma sesaat. hehehe. Pokoknya saya jago deh kalau disuruh me time atau menghabiskan waktu kosong.

Dan salah satunya juga dengan menulis curhat seperti ini hahaha

Diposkan pada Pengalaman, VisitJawaTengah

Perdana : Gunung Sumbing 3371 MDPL via Banaran (Edisi Banyak Curhatnya)

Terkejut abang terheran heeeraaann

Awalnya juga kesannya nekat, belum pernah naik gunung sama sekali, trus tiba-tiba sekalinya naik gunung langsung Gunung Sumbing. Ya mau gimana lagi, mumpung ada barengannya dan emang lagi penasaran banget naik gunung. Waktu itu saya naik Sumbing di sela-sela UAS, akhir Desember. Berangkat hari Jumat malam dan sampai Semarang Minggu sore, Selasanya langsung ujian akhir semester lagi.

“Langsung kapok kamu Zah, kalau pertama naik Sumbing” Ini komentar pertama doi yang notabene ketua mapala jurusannya dan sudah menjelajahi hampir semua gunung di Jawa Tengah (katanya tinggal Gunung Lawu yang belum). Nge-down? Jelas haha

Saya naik bersama teman saya Fahrul anak Teknik Elektro dan ke sebelas teman-temannya yang juga anak Elektro. 9 orang laki-laki dan 3 orang perempuan, saya, Nafi dan Ardilla. Kumpul di kos selepas sholat isya. Tidak usah ditanya bagaimana persiapan saya. Karena baru pertama kali, semua barang-barang saya sewa. Mulai dari carreer, sleppingbag, matras, sampai lampu tenda. Saya baru sewa peralatan setelah maghrib, lalu pergi ke swalayan membeli perbekalan, dan di jemput Fahrul untuk ke tempat kumpul. Jangan di tanya bagaimana cara saya packing, bermodal ilmu pramuka waktu SMA doang, yang jarang dipakai ditaruh bawah, yang sering dipakai di atas. Haha

Selepas Isya kami berangkat menuju Banaran. Sampai di basecamp jam 11 malam. Kami langsung disuguhi teh hangat oleh penjaga pos. Berbincang sebentar kemudian istirahat.

Pagi harinya sekitar jam 8, setelah sarapan kami berangkat. Dari basecamp kami harus berjalan kaki sekitar 1-2 km menuju pos 0. Iya, baru pos 0 guys belum pos 1. Sebenarnya bisa menggunakan ojek, merogoh kocek sekitar 40 ribu, tetapi waktu itu kami masih semangat-semangatnya

Kamu naik ojek atau jalan?” Tanya Nafi

Jalan..” Jawab Fahrul setelah menawarkan kami para perempuan naik ojek

Yauda aku juga jalan..” ya.. karena Nafi jalan, saya dan Ardilla juga ikutan jalan 😀

Pemandangan dari basecamp ke pos 0 tidak usah ditanya. Hamparan sawah yang hijau, terassering yang rapih, serta jalan bebatuan khas pedesaaan benar-benar memanjakan mata.

2 kilometer berlalu, kami masih bersemangat

POS 0 – POS 1

Perjalanan dari pos 0 ke pos 1 membuat saya sedikit kaget. Jalanan tidak menanjak terjal, tetapi kami harus melewati puluhan anak tangga, mungkin ini alasan mengapa Gunung Sumbing via Banaran sering di sebut dengan “Escalator Route” & “Shaolin Route” . Bisa dibilang jalur yang seperti ini lebih melelahkan daripada jalur setapak.

Kami menikmati perjalanan. Bercerita, bernyanyi, juga sesekali berhenti untuk minum dan istirahat. Kata Fahrul, jika sedang mendaki ada baiknya jangan istirahat terlalu lama, cukup 2-3 menit agar kaki tetap kuat.

POS 1 – POS 2

Pada pos ini kami sudah sedikit kelelahan. Carreer di punggung rasanya semakin berat padahal minuman sudah terkurangi. Kami saling menyemangati, menunggu, juga bernyanyi lebih ceria (padahal dalam hati juga capek ingin sambat) haha. Saya masih bersemangat waktu itu, paling sedikit ngomel-ngomel dalam hati “Ini yang suka bilang carreer terasa ringan walau pun banyak beban punggungnya terbuat dari apa ya? ;( ” Perjalanan menuju pos 2 kami terbagi menjadi 2 kelompok, saya bergabung dengan tim Ardilla, Fahrul, Sunan, dan Diaz di belakang. Sedangkan Nafi dan teman-teman lainnya jalan duluan. Tim kami lebih sering berhenti, usut-punya usut ketika berhenti akhirnya Ardilla mengakui kalau ia sedang sakit. Kepalanya pusing dan rasanya mual. Dan ternyataaa, hal ini karena ketika sarapan tadi Ardilla tidak makan nasi. hem. Ditengah perjalanan kami juga sempat berhenti untuk sholat dzuhur.

Pos 2 – Pos 3

Perjalanan dari Pos 2 ke Pos 3 adalah perjuangan. Ardilla mulai cemas dengan dirinya sendiri.

Udah kalian duluan aja..” kalimat seperti ini sudah berkali-kali terdengar. Tiap jalan 10 langkah, kami berhenti. Kami sampai pos 3 sekitar pukul 5 sore. Istirahat sebentar sembari sholat ashar. Membujuk Ardilla setengah mati agar mau ganti baju karena kaosnya basah keringat.

Masuk angin dill..” Kata Fahrul. Sampai akhirnya Ardilla mau ganti baju. Di pos ini Ardilla sempat beberapa kali minta turun

Kamu beneran mau turun? Kalau iya, aku juga ikut turun..” Begitu kata Fahrul, yang akhirnya berhasil menyemangati Ardilla. haha. Disini saya benar-benar belajar untuk saling menghargai dan setia kawan. Bisa-bisanya saya yang baru kenal Ardilla kemarin malam, langsung seperti punya ikatan batin. haha. Diaz, anak mapala elektro yang rela menunggu kami yang sering beristirahat, juga Sunan yang selalu setia dibelakang Ardilla. Kami tidak saling menyalahkan, kami menguatkan tanpa merasa lebih kuat.

POS 3 – POS 4

Yuk yuk semangat.. bisa nggak ya sampai sebelum maghrib?” Kataku sedikit cemas. Tidak ada jawaban, kami hanya saling tatap penuh harap. Perjalanan masih tetap sama, bedanya kali ini kami harus melewati seperti hutan yang habis terbakar. Pohon-pohon tanpa daun dan bekas daun-daun terbakar. Senja menyapa, terlihat jingga tanpa bisa melihat matahari tenggelam karena tertutup pohon.

Sampai akhirnya langit gelap dan kami belum juga sampai.

Kalian duluan aja..” sudah tidak lagi terhitung berapa kali Ardilla mengatakan seperti itu “Maaf ya aku ngerepotin..” juga kalimat ini. Tetapi hebatnya, orang-orang disekitarku malah menyemangati, membuat candaan, menghibur dan lagi-lagi menguatkan

Udah nggak papa, asal dibawah nanti traktir soto..” Seru Sunan

Eh? Nasi padang aja gak sih?” Timpalku, kami tertawa.

Tepat pukul 8 malam. Sudah 12 jam kami dalam perjalanan. Dingin. Ardilla yang tadinya keringat basah kini kedinginan. Kami memperlambat perjalanan. Banyak berhenti meski tau perjalanan masih jauh dan waktu terus berputar. Sampai akhirnya kami hampir tiba di tebing 90 derajat atau yang terkenal dengan Watu Ondo. Aku lebih banyak diam, apalagi kalau bukan menahan rasa takut? Ardilla gemetaran, kami memutuskan membuka matrass dan membuat teh panas. Aku memeluk Ardilla kuat-kuat, badannya menggigil, tangannya beku.

“Dil, pegang leherku sini nggak papa, bisa-bisa dil. Bentar lagi kok..

Aku mau turun aja rul….what theee…. 

Hampir emosi, untung sayang. Kami terus menghibur, saling memeluk, berbagi teh jahe, menguatkan, membuat iming-iming setelah watu ondo langsung sampai pos 4. Gerimis.

Hampir satu jam kami istirahat sebelum harus melewati watu ondo. Menunggu Ardilla sedikit baikan. Saya beberapa kali juga menggigil, astaga, jadi begini rasanya muncak.

Setelah melewati watu ondo sudah ada tim kami satunya yang mendirikan tenda dan memasak. Diaz memutuskan naik duluan.

Bisa Dil, bisa..” bisikku, lalu Ardilla malah menangis

“Aku punya trauma Zah sama tebing..”

Ya terus kamu mau gimana? Pulang? Disini? Ini udah malem Dil” Seruk saya sedikit emosi, maklum, saya juga sudah mulai kedinginan. Setelah dibujuk panjang lebar akhirnya Ardilla mau naik. Diatas watu ondo sudah ada Diaz yang siap menyambut, dibawahnya ada Sunan dan Fahrul yang menjaga. Dan…. Ardilla berhasiiilll!!! Kami dibawah menangis terharu, yang diatas pun berteriak senang

Heh… ardilla sampaiii…” teriak Diaz sambil membawa Ardilla ke tenda

Lalu giliran saya.

Takut? jelas. Bawah jurang, tebing 90 derajat. malam hari. saya kedinginan. Ingin menangis tapi rasanya percuma. huhuhu. Ya gimana akhirnya mau tidak mau ya naik. Saya naik sambil gemetaran takut. Batunya terasa dingin. Tidak berani lihat ke kanan kiri. Dan… sampai! HAHAHAHA.

Setelah melewati watu ondo tenaga saya habis. Saya langsung ke tenda dan beristirahat. Awalnya saya bisa tidur nyenyak, sampai sekitar pukul 3 Fahrul membangunkan kami untuk summit attack ke puncak. Tetapi saya lebih memilih tidur. HEHE

Sunrise dari sini udah bagus kok rul..” kata saya sambil menarik sleeping bag.

POS 4

Mentari menyapa. Sunrise indah. Tenang. Kami berfoto-foto. Membuat mi. Bercerita. Tertawa. Berfoto-foto lagi, hehe. Iya banyak foto-fotonya.

Fahrul, Diaz, dan Taufiiq baru turun sekitar jam 9.

Nggak nemu puncak..” lalu kami tertawa

Nggak nyesel aku gaikut keatas” dan tertawa lagi

Jam 10 kami akhirnya turun. Terasa lebih lega dan puas. Perjalanan yang kemarin terasa berat kini menjadi ringan dan cepat. Tetapi beberapa kali saya tergelincir, tidak bisa menahan tubuh.

Saya memilih berjalan paling belakang, tentu bersama Ardilla. hehe.

Sepanjang pulang kami lebih banyak membahas tentang kehidupan. Berat memang

Gimana zah rasanya pertama kali muncak?” Tanya Fahrul, saya hanya menghela napas panjang sambil fokus melihat tangga

“Kenapa sih kamu mau muncak? Padahalkan capek, berat, jauh”

Sebuah pertanyaan yang sampai sekarang pun belum bisa saya jawab dengan jelas.

P.s Terima kasih kepada Fahrul dan teman-teman elektro yang sudah mau mengajak saya, anak FISIP nyasar untuk muncak. Benar-benar first time yang memorable. Saya banyak belajar dari kekompakan kalian dan rasa saling menyayangi serta memiliki. Thanks!

Diposkan pada MoodSwing

Versi Kita

Saya selalu percaya bahwa masing masing orang memiliki pencapaian terbaik versi mereka. Hal itulah yang kemudian menjadi dasar untuk berjuang menjadi terbaik versi diri kita.

Perihal kesuksesan, memang tidak ada yang mutlak. Tidak ada poin poin tertentu untuk menjadi indikator sebuah sukses (kecuali sukses akhirat ya, jelas masuk surga). Karena pada dasarnya hakikat manusia tidak pernah merasa puas. Ada yang merasa sukses ketika mampu lulus perkuliahan dalam jangka waktu 3,5 tahun, pun ada yang merasa sukses ketika ia lulus 4 tahun tepat waktu. Hal-hal materil dunia tidak pernah ada batasnya, kefanaan dan rakus, menjadi hal positif mengapa kesuksesan tiap orang tidak bisa disama ratakan.

Pun versi terbaik dalam diri. Ada yang merasa baik ketika ia mampu menjadi seseorang yang pendiam, yang lembah lembut, yang tenang dan berwibawa. Pun ada yang merasa baik ketika ia berhasil menjadi sosok yang ceria, selalu antusias, dan mampu mencarikan suasanya. Kepribadian, tidak ada yang paling baik.

Tidak ada hal hal mutlak dalam dunia. Selalu ada sisi positif dan negatif dari berbagai sudut pandang, meskipun sedikit. Jangan merasa paling benar. Kebenaran hanya milik Allah.

Jangan bandingkan dirimu dengan orang lain. Karena tiap manusia dibebaskan untuk menentukan versi terbaik dalam hidupnya

Diposkan pada Puisiy

Rumah

Adalah dimana kata kebanyakan orang adalah tempat untuk berpulang. Dengan segala keluh kesah kejamnya kehidupan. Tempat terakhir mengungkapkan isi hati yang sudah hampir termuntahkan

Adalah dimana kata kebanyakan orang adalah tempat yang mampu menerima diri dengan apa adanya. Tidak peduli berpuluh-puluh kesalahanmu. Pun beribu kekuranganmu. Tempat orang-orang mencintai dirimu tanpa sebuah alasan klasik tentang kelebihan

Adalah dimana kata kebanyakan orang adalah tempat berlabuh. Sekadar istirahat sejenak, mengisi energi untuk kemudian dapat kembali berlari.

Lalu di saat bahagia penuh tawa,

akankah masih teringat dengan rumah?

Seringnya begitu. Rumah hanya dijadikan sebagai tempat berpulang, menangis, kembali disaat pada titik terendah. Kemudian kita bangkit dan melejit, berada pada mimpi yang kita rangkai. Lalu tak terbesit rumah, sekali pun. Seringnya begitu.